Sudah Pensiun Jadi Pendekar
“Kopi bukan untuk diperdebatkan, tapi untuk dinikmati”
Pernah dengar kalimat “kopi itu yang digiling, bukan yang
disobek”? Kalimat yang sering muncul sejak menjamurnya kopi seduh manual di
coffee shop. Kampanye yang menurut saya aneh, meski pernah mengalaminya juga.
Iya, saya pernah jadi pendekar kopi.
Sekitar tahun 2012 saya mulai mengenal kopi. Dalam arti,
kopi itu tidak selamanya harus pahit seperti karbit. Ada beragam rasa dan aroma
di dalamnya. Tergantung di mana kopi itu ditanam dan dari daerah mana. Intinya kopi
dari setiap daerah memiliki rasa dan aroma yang berbeda.
Sejak itu, saya juga mulai belajar menyeduh dan berakhir
dengan jatuh cinta sama kopi. Kopi tidak selalu harus sepahit mengkudu. Rasa manis juga
bisa muncul tanpa harus menambahkan gula. Kebetulan juga saya agak memusuhi
gula. Karena selain menghancurkan rasa asli kopinya, saya juga tidak suka manis. Plus, ada riwayat diabetes dalam keluarga.
Karena hal itu pula, saya kerap berusaha mengubah selera
orang. Mulai dari melarang memasukkan gula ke dalam kopi, nyinyir jika ada yang
memasukkan gula ke dalam kopi, dan mulai koar-koar tentang kopi sachet adalah
sampah. Karena ngga suka dengan rasa kopi sachet yang menurut saya terlalu
manis sampai bikin bulu kuduk naik. Entah berapa lama saya menjadi pendekar
kopi.
Belakangan saya sadar. Saya tidak bisa mengubah selera
orang. Kalau menurut saya kopi sachet ngga enak, tapi banyak orang yang
menyukainya. Kalau menurut saya kopi tanpa gula yang paling enak, kan tidak
semua orang benci gula. Kalau menurut saya kopi paling enak adalah kopi yang
rasanya ringan, sedikit asam, manis dan pahitnya seimbang. Tapi ada juga orang
yang lebih menyukai kopi tubruk, hitam, dan pahit. Atau ada juga orang yang
lebih menyukai kopi yang dicampur susu. Dan banyak yang mengganggap kopi sachet
adalah yang terbaik di muka bumi.
Semua kembali ke selera orang. Tiap kepala memiliki pemikiran
dan selera yang berbeda. Tuhan menciptakan makhluk yang berbeda supaya bisa
saling melengkapi. Kebayang ngga, kalau Tuhan menciptakan manusia dengan otak
dan selera yang sama? Apa bedanya dengan robot?
Berubahnya pola pikir juga karena banyak ngobrol sana
sini. Terutama dengan mereka yang sudah lama terjun ke dalam dunia perkopian.
Beberapa waktu lalu sempat main ke 5758 Coffee Lab. Satu-satunya tempat di Bandung
yang bisa mengeluarkan sertifikat untuk para Q-Grader atau orang-orang yang satu
tingkat lebih tinggi dari barista. Q-Grader adalah orang-orang yang mampu
mengidentifikasi rasa, aroma dan memberikan nilai untuk kopi. Ribet kan ya?
Makanya ngga perlu dipikirin lah… Kalau mau tahu banyak tentang Q-Grader bisa
tanya langsung ke Mbah Google, dia akan memaparkan panjang lebar.
Nah, direktur lab ini adalah Adi W. Taroepratjeka satu-satunya
juri perkopian asal Indonesia yang sudah diakui oleh dunia. Ya, kalau kemarin
nyebut Ucok sebagai ‘Dewa Kopi’ nya Bandung. Yang ini, anggap saja ‘Maha Dewa’
nya kopi. Dari sana, saya juga dapat pelajaran baru tentang kopi. Salah satunya
adalah setiap orang memiliki kemampuan berbeda dalam mencerna kafein.
Jadi ketika ada orang yang mengeluh sakit perut jika minum
kopi, ya itu karena tubuhnya tidak bisa mencerna kafein. Atau ada yang mendadak
mual setelah minum kopi robusta, tapi baik-baik saja jika minum kopi arabika.
Itu karena mereka memang tidak bisa mencerna kafein dalam jumlah yang banyak. Apalagi
kafein robusta lebih tinggi ketimbang arabika. Ada juga orang yang baik-baik
saja meski minum bergelas-gelas robusta.
Selain itu, beberapa waktu lalu saya juga sempat main ke Pontianak
dan Singkawang. Tradisi minum kopi di sana sudah lahir sejak entah kapan. Jumlah
warung kopinya pun tak terhingga, semua menawarkan menu serupa. Kopi susu,
kopi pancong, dan lainnya. Sebagai, turis dadakan rasanya ngga lengkap kalau ke
Pontianak dan Singkawang tanpa mencicipi kopi khasnya.
Jadi, waktu di Singkawang saya nekad memesan kopi pancong.
Saya tahu, semua kopi di sana robusta. Dan sebagai peminum arabika, saya sempat
khawatir kopinya terlalu pahit dan lain sebagainya. Tapi ternyata saya
baik-baik saya. Tidak mual, masih tetap bisa tidur, dan saya suka kopinya. Kombinasi
manis dan pahitnya pas di lidah. Bahkan sampai sekarang, rasanya ingin balik ke
Pontianak dan Singkawang cuma buat mimik kopi pancong di pinggir jalan.
Jadi ya sudahlah… untuk apa memperdebatkan kopi yang baik,
kopi yang sehat? Setiap orang punya selera kopinya masing-masing. Kopi itu hanya
untuk dinikmati, di mana dan sama siapa. Gitu kalau kata temanku yang setengah
ketje.




Comments
Post a Comment