Kembali Jadi Anak Jalanan Setelah Ribuan Purnama Hibernasi


Bikin Berita Jangan Seenak Jidat!

 "Erupsi Tangkubanparahu Kali Ini Lebih Besar Dibanding 2013”
Rajamandala, Cipatat 2013
Begitu kata salah satu judul media yang katanya paling banyak diklik saat ini. Sungguh, membacanya bikin saya jadi pengen mengumpat ratusan kata kasar. Kalau nanya, kenapa harus bikin judul kayak gitu? Jawabannya tentu saja biar diklik banyak orang. Tapi kan yaaa…… Tangkubanparahunya aja biasa-biasa aja lho. Statusnya juga masih Level 1 alias Normal!

Erupsi macem itu juga pernah terjadi 6 Oktober 2013. Sama persis, tidak lebih besar dan tidak lebih kecil. Gara-gara itu juga, saya bangun pagi dan dateng ke Preskon buat konvirmasi ke PVMBG. Informesyennya ya sodara-sodara, erupsi Tangkubanparahu tidak akan mempengaruhi aktivitas Gunung Api lain di Jawa Barat. Juga tidak akan mempengaruhi sesar lembang. Kenapa? Karena karakteristiknya beda dengan Gunung Api lain, dan erupsi Tangkubanparahu sifatnya bukan dari magma segar. Gitulah singkatnya.

Sebenarnya, udah ribuan purnama saya ngga ke lapangan. Ini adalah bulan ketiga saya kembali jadi anak jalanan. Liputan wara wiri, buat ngejar isu yang lagi jadi trending topic, kemudian setor ke Jakarta. Kenapa harus ngejar isu yang lagi jadi trending? Biar ngga ditanya atau ditagih. Karena sesungguhnya, paling males kalau udah dapet pertanyaan.

Kota Baru Parahyangan, 2019

Untung sekarang dapet readakturnya baik hati. Plus tandem sama teman, sesama alumni Radar Bandung, yang bikin kerja jadi berasa ngga dikejar setan. Alhamdulillah Yalord!

Si teman tandem ini juga suka ngasih masukkan ke saya. Karena kadang, saya kerja kayak dikejar setan, walau ngga ada yang ngejar. Inisiatif sendiri, pergi jauh-jauh tanpa mikir panjang. Soal waktu, ongkos, dan lainnya. Cuma demi berita akurat hasil reportase di lapangan sama wawancara narsum utama. Padahal digaji juga ngga seberapa…
Ruang Humas Pemkot Bandung, 2010


“Kerja pintar, Meg.”

Jadi jelma ulah perfectionist teuing” – Jadi orang jangan terlalu perfectionist.
Maneh ngudag naon sih?” – Kamu ngejar apaan sih?
Dan lainnya….

Saya aja bingung ngejar apa. Mungkin mau menyalurkan energi yang kelewat besar dengan jalan-jalan dari ujung ke ujung. Berikut suka ngga sadar sama batas energi diri sendiri. Kalau udah gitu, biasanya tepar dan harus diem di rumah, tidur dan makan banyak.

Cuma ya…. Meski udah lama ngga ke lapangan, tapi saya masih ingat kalau bikin tulisan itu jangan sampai bikin orang panik. Terutama berita bencana. Efeknya sungguh menyebalkan saudara-saudara sekaliaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan!!!

Bandung 2019, Nunggu Bahar bin Smith
sama Dev Patel wanna be
Misal di grup WhatsApp jadi berisik. Mereka yang cuma dapat info sekilas akhirnya bersikap seolah terjadi bencana besar sekali yang menewaskan jutaan makhluk di muka bumi. Aing kan jadi kesel nanggepinnya. Ingin left group nanti dibilang sombong, walau kenyataannya saya memang anak yang sombong.

Balik ke lapangan ini ceritanya memang segudang. Mulai dari gelagapan ngga tau isu, sampai harus ngintilin temen yang mungkin akhirnya dia risih saya tanya terus “ada apa hari ini?” – “mau kemana hari ini?” – “bikin ini ngga?” Ya, maapkan anggap aja saya anak magang, ya gaes…

Harus ketemu sama anak-anak tv, yang sesungguhnya bikin hmmm…. Apa ya, males. Kalau kasarnya begitu. Kenapa males? Karena mereka sering setting dan akhirnya bikin rusuh tempat liputan.
Satu hari, berjuta tahun lalu…. Saya punya pengalaman menyebalkan sama nakanak tv. Waktu itu sedang ada sidak pasar bareng BPOM. Biasa, agenda bulan Ramadan lah ya… Agenda pagi adalah sidak ke salah satu pasar di Bandung. Sebagai anak cetak ya, saya pasti nunggu lokasi selanjutnya untuk wawancara tentang hasil sidak. Tapi dasar nakanak tv ya, kayaknya males nunggu, entah udah ditanyain juga sama kantor pusat buat setor berita. Akhirnya, nodong wawancara di lokasi pertama sidak. Efeknya? Tentu saja sidak ke lokasi selanjutnya tertunda.

Gedung Sate, 2013
Ada lagi cerita tentang jurnalis yang, hmmm mungkin ngejar ekslusif. Walau sebenarnya tidak ada yang ekslusif di sini karena industri media belum bisa menggaji karyawan dengan layak. Akhirnya, munculnya situasi ‘menjablay berjamaah’ alias satu jurnalis bekerja di dua, tiga, empat media demi mendapatkan uang tambahan. Atau ada yang mencari uang tambahan dengan cara menjaring uang dari narsum (ini kapan-kapan aja ceritanya).

Nah, yang ngejar ekslusif ini kadang ngga liat situasi. Misal nih ya…. Kemarin waktu lepasliar Owa Jawa (Hylobates moloch) di Cagar Alam Situ Patenggang. Satu Owa Jawa udah langsung ngibrit naik ke pohon begitu pintu kandang dibuka. Sementara yang satunya, masih waspada. Ragu-ragu mau keluar. Selain karena trauma pernah dibius begitu kandang dibuka, mungkin dia juga liat banyak orang di sekitar kandang. Meski jaraknya lumayan jauh.

Saya, karena bekalnya cuma kamera handphone jadi milih tempat memantau yang lumayan jauh. Yang penting mata bisa nangkep gerakan. Sementara yang bawa kamera kurang tele, memilih tempat yang yaaa… mungkin jaraknya cuma 15 langkah dari kandang rilis.
Cukup lama sampai akhirnya Boris si Owa Jawa jantan ini mau keluar kandang. Itu pun dia memilih diam dulu di area kandang. Tidur-tiduran di batang bambu, tepat di luar pintu kandang. Kemudian dia memilih naik ke atas kandang.

Nah, begitu dia di atas kandang ada satu anak nih berdiri. Akibatnya, si Boris nyuksruk ke hutan di belakangnya. Bukan lari ke atas pohon kayak pacarnya si Inge. Entah dia dari media mana, tapi rasanya saya ingin ngelempar bocah itu, tapi ngga megang barang yang bisa dilempar. Akhirnya cuma bisik-bisik penuh emosi sama Ibuk Dosen Rinda, yang juga aktivis dari ProFauna
Biar apaaaa cobaaaaaaaaaaaaaaaaaaa??? Dasar blegug. Kalau ada Om Badil, dia pasti ngomong “Lempar Meg! Klo engga biar gue lempar pake sendal!”

Nunggu Vonis Bahar bin Smith, Bandung 2019
Kejadian-kejadian ajaib bin menyebalkan itulah yang sempat saya lupakan kemarin, ketika hibernasi puluhan purnama. Makanya, sesungguhnya saya lebih senang bikin isu sendiri, liputan sendiri, bikin tulisan panjang. Tapi harus mengalah sama ego yang kelewat tinggi. Selain karena masih digaji seadanya, jadi bikin tulisan pun akhirnya disesuaikan dengan bayaran.

“KIRIM DAN LUPAKAN!” gitu kalau kata Dev Patel wanna be.






   

Comments

Popular Posts