Belajar Liburan Sendiri Ke Tengah Laut
“Aku cari tiket bus, Begi ngurus penginapan ya, Riza coba cari kontak
pelabuhan, si Asu cari info sewa perahu.”
Ucapan itulah yang keluar dari mulut saya ketika beberapa
teman menyatakan ingin ikut berlibur sedikit lebih jauh dari rumah. Bossy ya? Mungkin buat yang tidak
mengenal saya, itu sedikit menyebalkan. Tapi ya, daripada liburan batal akibat
tidak dapat tiket, penginapan, atau ketinggalan kapal laut?
Sekitar tiga tahun setelah terjun ke dunia jurnalistik, saya
akhirnya bisa cuti dan berlibur sendiri. Tegang tapi juga bersemangat, karena
biasanya saya selalu menghabiskan liburan bersama keluarga. Meski lokasi
liburan yang sekarang tak sejauh lokasi liburan bersama keluarga, tetapi toh
sama-sama harus menyeberangi lautan.
Sebagai anak rumahan, saya memang tak pernah berlibur tanpa
keluarga. Sejak kaki mulai menapak tanah, sampai selesai kuliah pada 2007 lalu
jatah waktu liburan selalu dihabiskan bersama keluarga. Entah itu kembali ke
kampung halaman Papski di Malang atau main sedikit lebih jauh ke Bali bersama
tante dan sepupu-sepupu. Intinya, saya tidak pernah jauh dari rumah tanpa
kelurga.
Entah bagaimana ceritanya, akhir tahun 2012 saya memutuskan
untuk berlibur sendiri ke Karimun Jawa. Kemudian mulai mencari informasi wisata
ke Karimun Jawa. Banyak paket tour yang menawarkan wisata ke Karimun Jawa
dengan harga yang lumayan. Dasar saya, hal kecil seperti itu pun akhirnya jadi
tantangan baru. Saya yakin, bisa berlibur ke Karimun Jawa tanpa paket tour dan
bisa ngirit ongkos seminim mungkin.
Rencana itu kemudian saya utarakan ke teman, Begita.
Sebenarnya Namanya Gita, tapi dia sendiri yang menambahkan ‘Be’ di depan nama
aslinya. Dan nama Begita lah yang kami pakai untuk memanggilnya. Rencana
liburan itu membuatnya tertarik, dan dia minta izin untuk bergabung dalam
perjalanan. Saya pikir, tentu saja langsung saya sambut demi menekan budget
penginapan. Beberapa minggu kami mulai merencanakan perjalanan. Mencari
informasi seperti berapa harga tiket bus dari Bandung ke Jepara? Jadwal tiket
kapal laut dari Jepara ke Karimun Jawa, dan berapa harga tiketnya? Sampai yang
terkecil seperti makan.
Kasak kusuk berdua membuat dua teman lainnya penasaran. Riza
dan Asu. Nama sebenarnya Ajat Sudrajat, tapi saya persingkat sehingga saya
panggil Asu. Ketika saya dan Begita mengungkapkan niat berlibur ke Karimun
Jawa, keduanya tertarik dan menyatakan ingin ikut.
Saya sih senang-senang saja. Karena bertambahnya jumlah
peserta liburan pasti akan memperketat budget. Minimal untuk penginapan.
Jadilah saya memberi tugas kepada masing-masing. Saya bertugas mencari dan
membeli tiket bus Bandung-Jepara setelah menentukan jadwal keberangkatan.
Begita mencari penginapan dan transportasi di Karimun Jawa. Asu mencari perahu
wisata. Dan Riza mengurus kapal penyeberangan.
Sebenarnya tugas terberat adalah mengurus kapal
penyeberangan Jepara-Karimun Jawa. Karena jika bus telat tiba di pelabuhan,
kami semua akan batal berlibur. Apalagi jadwal menyeberang ke Karimun Jawa
hanya dua kali seminggu. Begita pun menceritakan pengalaman teman-teman
kampusnya yang menurut saya horor.
“Mereka ketinggalan kapal, teh kemudian nyeberang pakai perahu
nelayan yang kecil, yang dari kayu,” katanya waktu itu.
Dari sana mulai merasa tegang. Bagaimana kalau kami salah jadwal
dan harus menyeberangi Laut Jawa dengan menggunakan kapal nelayan?
Membayangkannya pun tak mampu..
Akhirnya saya menekan Riza. Entah bagaimana caranya dia
harus mendapatkan nomor kontak Kepala Pelabuhan. Dan meminta memesan empat
tiket penyeberangan, yang tentu saja tidak bisa. Tapi semesta memang sedang
berpihak kepada kami, Riza dapat nomor kontaknya Kepala Pelabuhan saat itu.
Hari keberangkatan tiba. Kami berangkat sekitar pertengahan
Mei 2013, pukul enam sore dengan menggunakan Bus Kramatjati. Papski dan Mamski
yang mengantar sampai ke pemberhentian bus. Begita dan Riza datang tak lama
kemudian. Asu hampir ketinggalan bus karena mengaku masih mengejar liputan. Dia
sempat lari-lari lantaran tiba ketika supir sudah menyalakan mesin dan nyaris
menjalankan busnya, keluar dari parkiran.
Singkatnya, perjalanan kami dari Bandung ke Jepara berjalan
lancar. Saya sempat tegang lantaran terjebak macet cukup lama di daerah Garut.
Jam tujuh pagi kami baru masuk Jepara. Ketegangan semakin menjadi, mengingat
kapal akan meninggalkan pelabuhan tepat jam delapan pagi. Ketagangan saya
menular ke Riza. Dia bangkit dari kursinya dan pindah ke depan, duduk dekat
supir bus.
“Za, sana ih telepon Kepala Pelabuhannya!” perintah saya.
Agak aneh sih, tapi perintah-perintah saya selalu dituruti banyak orang tanpa
banyak cakap. Saya pikir mungkin mereka malas mendengar omelan atau suara saya.
Begitu juga dengan Riza. Dia langsung mengubungi Kepala Pelabuhan Jepara untuk
mencari tahu keberangkatan.
Oh iya, soal penginapan. Beberapa hari sebelum
keberangkatan, Begita mendapat penginapan yang ternyata pemiliknya juga orang
Bandung. Mereka berkomunkasi dan berjanji akan menyediakan dua kamar seharga Rp
80 ribu/malam untuk kami berempat. Bukan hanya itu, pemilik penginapan pun
menyiapkan mobil untuk menjemput kami dari pelabuhan. Tentunya kami harus
membayar biaya tambahan.
“Berangkat jam delapan, teh,” ucap Riza setelah menghubungi
Kepala Pelabuhan. Saya semakin tegang, karena rasanya terminal masih sangat
jauh. Berdasarkan informasi yang saya temukan selama melakukan survey, dari
terminal kami masih harus menempuh beberapa kilometer lagi untuk tiba di
pelabuhan. Padahal jarum panjang di jam tangan sudah menunjuk angka 15. Kami
tidak punya banyak waktu!
Tiba-tiba di tengah ketegangan. Riza mendekati kursi saya
dan Asu. Dia menyambungkan informasi yang diterima dari kernet bus. “Katanya
kalau kita bayar 10 ribu, mereka mau nganter sampai pelabuhan. Lagian katanya
semua penumpang bus ini tujuannya ke Karimun Jawa.”
Saya, Asu dan Begita langsung mengiyakan. Lega karena supir
bus yang baik hati mau mempersingkat waktu perjalanan dan hanya minta tambahan
Rp 10 ribu per kepala. Meski di luar budget yang disiapkan, tapi yasudahlah.
Toh cuma Rp 10 ribu. Jika dibandingkan harus terombang-ambing di tengah laut
selama beberapa jam dengan perahu nelayan, Rp 10 ribu tidak ada apa-apanya.
Begitu bus merapat di pintu pelabuhan, ketegangan saya
menguap. Rasanya saya bisa bernapas lega dan melanggang santai melewati pintu.
Sempat cuci muka dan sikat gigi dulu di toilet pelabuhan, sementara Asu dan
Riza membeli tiket. Kemudian nongkrong sebentar untuk sarapan di salah satu
warung di pelabuhan. Ini kebodohan yang kami sesali berikutnya. Karena begitu
masuk ke kapal, kami tidak mendapatkan tempat duduk nyaman. Semua posisi
ternyaman di kapal kelas ekonomi sudah ditempati. Jadi kami hanya bisa
menempati sisa kursi yang ada.
Tepat jam delapan pagi, nakhoda menyalakan mesin dan kapal
pun berangkat! Horeeee, liburan di tempat baru akan segera dimulai. Kami
girang, tanpa menyadari yang harus kami
hadapi selama berjam-jam selanjutnya…





Comments
Post a Comment