Bukan Barista, Cuma Tukang Nyeduh
“Eh ada barista!”
Panggilan yang belakangan sering saya dengar tiap kali
berkunjung ke satu tempat. Sesungguhnya, saya merasa risih.
![]() |
Di sini saya mau mempertegas. Saya ini bukan barista. Buat
saya, barista-barista ini bukan cuma mahir membuat berbagai menu kopi. Tetapi
juga sangat paham dengan kualitas kopi, profil roasting kopi, mengerti vocabulary kopi yang menurut saya
banyak dan ajaib-ajaib, dan masih banyak lagi. Selain itu mereka juga biasanya
pakai celemek keren dari kulit, good looking, dan apa lagi ya?
Rasanya terlalu berat ketika ada yang memanggil saya
barista. Karena saya tidak seperti barista-barista ketje itu. Saya cuma orang
yang suka minum kopi dan selalu berusaha membuat kopi yang bisa bikin orang
tersenyum. Disuruh bikin kopi pakai mesin pun saya masih gelagapan. Apalagi
kalau disuruh bikin gambar-gambar cantik pake susu atau latte art. Pasti saya
hanya mampu membuat bentuk bulat tak sempurna yang sekilas tampak seperti
pantat.
Saya belum lama belajar nyeduh kopi. Kenal sama kopi sekitar
tahun 2012-2013. Belajar nyeduh dari 2015 awal. Itu pun setelah merasa kopi
bisa menyembuhkan saya dari sakit otak.
Ya… sedikit bercerita tentang kenapa akhirnya saya senang
menyeduh kopi. Tahun 2010 saya mulai bekerja sebagai jurnalis di Radar Bandung.
Sebagai lulusan Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, Jatinangor, yang
sekarang Namanya berganti menjadi Fakultas Ilmu Budaya, saya ngga tau apa-apa
tentang dunia jurnalistik. Ketika awal diterjunkan ke lapangan, saya seperti anak ayam kehilangan induk alias masih bloon dan tak punya teman liputan.
Liputan pun kebanyakan sekenanya. Sementara tulisan yang
harus saya setor ke redaktur, biasanya berupa feature. Selain karena belum bisa
menulis hard news, saya memang lebih suka menuangkan cerita lewat tulisan. Singkatnya, beberapa
waktu di lapangan akhirnya saya berkenalan dengan teman-teman seprofesi dan
mulai belajar menulis hard news. Mulai berani bertanya ke narasumber sekelas anggota
dewan sampai walikota. Berhenti sampai di sana.
Kemudian 2012 saya berkenalan dengan organisasi profesi
bernama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandung. Sekelompok jurnalis yang
menurut saya garang-garang karena tegas menolak imbalan dari narasumber, mengharamkan copy paste, dan lainnya.
Singkatnya, saya pun akhirnya gabung dengan AJI Bandung.
Teman makin banyak, jaringan makin terbuka lebar, informasi
yang saya terima pun semakin penuh. Ibarat gelas yang diisi air terlalu banyak,
maka airnya akan tumpah. Begitu juga dengan otak saya, yang menurut saya kapasitasnya
hanya sebesar cangkir untuk balita. Karena tidak bisa menyaring informasi akhirnya
saya merasa muak. Sering sedih karena ngga bisa membantu orang-orang. Sebagai jurnalis, saya hanya bisa membantu lewat tulisan.
Tapi rasanya tidak pernah terjadi perubahan yang signifikan.
Lalu apa? Depresi? Yes. Tapi saya ngga sadar. Saya mulai
banyak menghabiskan berbungkus rokok, yang jadi kebiasaan sampai sekarang. Mulai
kenal alkohol. Ketika mengisi kuisioner dari seorang Psikolog, rokok dan alkohol jadi salah dua indikasi gejala depresi. Yang paling parah, saya mulai ingin merasakan ditabrak mobil
setiap kali mau menyeberang jalan.
“Kalau saya nyeberang sekarang, trus ditabrak. Mati ngga?
Sakit ngga?” pertanyaan seperti itu terus muncul. Sampai akhirnya saya memilih
jembatan penyeberangan. Berhenti? Tentu saja tidak. Pertanyaan lain malah
muncul. “Kalau terjun dari sini mati ngga? Mati ditabrak trus kelindes mobil? Atau
Mati karena jatuh?”
Terus begitu sampai akhirnya saya selalu menghindari
menyeberang jalan. Kebetulan, sampai saat ini saya masih setia menggunakan
kendaraan umum. Cara terbaik untuk menghidari hal-hal yang tidak diinginkan
adalah naik angkot dan turun di tempat tujuan tanpa perlu menyeberang jalan.
Ketika mulai menyeduh kopi, pikiran untuk menyakiti diri
sendiri itu sedikit demi sedikit menguap. Saya hanya fokus pada katel, air,
timbangan dan bubuk kopi. Saya selalu merasa tenang ketika air panas mulai
menyentuh bubuk kopi dan mengeluarkan uap dengan aroma yang sulit dideskripsikan. Dan
semakin senang ketika kopi hasil seduhan saya sesuai dengan keinginan. Tambah
senang lagi ketika yang minumnya tersenyum dan bilang “enak, Meg!”
Iya, sesederhana itu. Menyeduh kopi adalah hobi yang juga
menjadi healing buat saya. Saya menyebutnya meditasi. Saya tidak punya ambisi
besar untuk tercatat sebagai barista bersertifikat yang menjuarai berbagai kompetisi.
Ribet amat hidupnya…
Mimpi saya terkait kopi ini cuma satu. Buka kedai kopi
sendiri. Kedai kopi yang halamannya ditumbuhi beberapa jenis sayuran, herbal,
juga tanaman hias. Kedai kopi yang juga menjadi wadah berbagai komunitas yang
selalu membuat suasana kedai menjadi hangat.





Mantap ceritanya meg. Saya baru tau sampai segitunya. kalau liat kebiasaan kamu saat nyebrang, jangan2 saya juga (pernah?) depresi 🤦🏾
ReplyDeleteKaaann kata Dr. Tedy juga 95% jurnalis mengalami depresi. Sayangnya, kebanyakan ngga mau ngaku klo punya masalah dan ngerasa semua baik-baik aja. 😹
Delete