Dari Wawancara, Lalu Jatuh Cinta


“Di sinilah cerita tentang kopi itu di mulai”


Rumah berlantai dua di sudut Jalan Piit itu tampak sepi. Hanya ada satu motor tua terparkir di halamannya. Padahal biasanya, basecamp salah satu organisasi besar di Jawa Barat itu selalu dipenuhi motor. Sampai melenggang masuk ke teras pun susahnya minta ampun. Pintu garasi bercat hijau toska juga tertutup. Tapi saya tetap masuk lewat pintu depan, saya menunggu.

“Tunggu aja, Meg… si Meb bentar lagi datang katanya,” ucap Meiki. Lelaki asal Manado yang 
sesungguhnya sudah melupakan tanah nenek moyangnya. Seumur hidupnya, lelaki kurus nan jangkung itu mengaku hanya sekali bertandang ke Manado. Itu pun ketika dia masih memakai seragam merah putih.

Meiki adalah salah satu staf organisasi. Kebetulan kami cukup dekat lantaran sering berjumpa di lapangan. Terutama ketika mereka melakukan aksi, sementara saya meliput aksi kemanusiaan yang mereka lakukan. Pagi itu pun saya memang mau meliput, tetapi bukan meliput aksi penolakan pembangunan Waduk Jatigede di Sumedang. Melainkan warung kopi di garasi berpintu hijau toska.

Sudah cukup lama saya mendengar ada warung kopi baru di Jalan Piit. Kata teman-teman, kopinya enak dan murah. Hanya saja, warung bernama Garasi Merdesa itu hanya buka ketika yang punyanya tidak sibuk atau dikejar deadline. Maklum, selain mengelola warung kopi sangat, sangat sederhana, Meb juga merupakan freelancer yang kerap mendapat proyek dari NGO internasional. Entah proyek apa, saya lebih tertarik pada Garasi Merdesa.

Tidak sampai setengah jam, Meb datang. Dia membuka pintu garasi dan bersiap-siap membuka warungnya. Saya masuk lewat pintu samping, menyapa dan menyampaikan maksud kedatangan ke Garasi Merdesa. Meb mengiyakan, lalu dia menjawab semua pertanyaan saya dengan singkat sembari membuatkan segelas Vietnam Drip yang saya pesan. 

Kenapa Vietnam Drip? Karena saat itu hanya kopi ala Vietnam yang saya kenal. Apalagi, jauh hari sebelum bertandang ke Garasi Merdesa saya pernah memesan Vietnam Drip dan suka. Saya suka ketika air gelap itu rembes, menetes perlahan lewat lubang dripper tembaga, dan jatuh di atas susu kental manis. Di Vietnam, biasanya orang-orang menyebut dripper dengan pin.

Usai wawancara, tentu saja saya membuat tulisannya dan mengirimkannya ke Jakarta. Cerita tentang Warung Kopi Suka-Suka di sudut Jalan Piit, Bandung.

Meski wawancara sudah rampung, berita sudah naik, rasanya saya ingin terus bertamu ke Garasi Merdesa. Kepala saya selalu merekam dan memutar kembali gambar interior sederhana di Garasi Merdesa. Posisi dua meja dengan delapan kursi yang terbuat dari kayu pinus dijejalkan di dalam ruangan yang hanya mampu memuat satu mobil kijang.

Satu lemari yang juga terbuat dari kayu pinus. Penuh berisi buku dengan berbagai judul. Posisinya di seberang meja. Jadi ketika sedang duduk minum kopi, kita hanya perlu membalikan badan tanpa perlu meninggalkan kursi untuk memilih buku yang ingin dibaca.

Tapi yang selalu menarik perhatian saya adalah biji-biji kopi dalam toples di atas meja bar. Tentu saja bar pun terbuat dari kayu pinus, lengkap dengan tiga bangku berkaki panjang. Jika duduk di bangku-bangku itu, kita bisa melihat langsung ketika Meb meracik kopi untuk tamu yang kebanyakan merupakan teman dekatnya.

Alasan itu yang akhirnya membuat saya sering berkunjung ke Garasi Merdesa. Sambil minum kopi, saya juga mencari tahu teknik lainnya. Dan kemudian nekad, untuk mencoba menyeduh kopi.
Berbekal informasi dari hasil wawancara, akhirnya saya mulai belajar. Menimbang kopi, menggiling, menurunkan suhu air, dan menyeduh kopi. Percobaan pertama tentu saja yang paling mudah, kopi tubruk.

Setelah tangan mulai terbiasa dengan gerakan memutar ketika menyeduh kopi tubruk. Barulah saya mencoba untuk menyeduh dengan menggunakan alat V60. Ini jadi tantangan baru buat saya. Karena saya harus konsentrasi supaya air yang keluar dari corong katel tidak terlalu banyak hingga air panas menggenangi kopi. Selain itu, saya juga perlu melihat timbangan. Berapa banyak air yang harus saya keluarkan dari katel.

Awalnya semua terasa sulit. Kopi V60 seduhan saya rasanya tidak ada bedanya dengan karbit. Tapi lama-lama mulai terbiasa. Rasa karbit sedikit-sedikit berubah. Meski masih terasa pahit, tapi ada sedikit rasa lain yang keluar dari kopi.

Semakin sering saya datang ke Garasi Merdesa, semakin sering belajar menyeduh. Apalagi Meb juga tampak tidak keberatan dapurnya saya ambil alih. Dari sana juga akhirnya saya membantu mengelola warungnya.

Selain itu,  saya juga mendapatkan beberapa pelajaran baru dari Ucok, ‘Dewa Kopi’ nya Bandung. Kenapa saya bisa menyebutnya seperti itu? Hampir setiap brewer di Bandung mengenalnya. Menurut saya, kopi-kopi seduhannya tidak pernah ada yang gagal meski dibuat secara manual. Dan kami berkenalan secara tidak sengaja. Kebetulan saja, obrolan kami nyambung dan lingkaran pertemanan kami sama. Dari sana kami banyak ngobrol tentang kopi dari hulu sampai hilir. Plus, teknik menyeduh.

Setiap bertemu Ucok saya banyak bertanya tentang tekniknya.  Sedikit-sedikit saya mencontek tekniknya, meski pada akhirnya rasa kopi buatan kami tetap beda. Tapi setiap mendapat informasi baru, langsung  saya praktikan.

Sebenarnya bukan hanya Ucok. Setiap berkenalan dengan brewer yang kopinya saya anggap enak, saya selalu menanyakan teknik yang dia pakai, kemudian dipraktikan. Ucok bukan guru terakhir, masih banyak teman-teman brewer yang hasil seduhan kopinya selalu memikat lidah. Tapi paling tidak, sekarang saya sudah menemukan kopi ala Mega.


Yang pasti, saya tidak akan pernah berhenti belajar. Karena cerita tentang kopi tidak akan berakhir pada satu titik saja. Masih banyak cerita dan pelajaran baru dari secangkir kopi.  


Comments

Popular Posts